Berani kah Anda Menantang Diri Anda sendiri

Sahabat.. Menurut Saya, ada beberapa alasan kenapa banyak orang memilih untuk melakukan sebuah perjalanan. Entah itu bertujuan untuk mengeksplorasi tempat yang baru yang masih sedikit orang yang mengunjungi nya, bertemu dengan orang baru atau bahkan menikmati wisata kuliner yang khas dari daerah tersebut. Motivasi yang dilakukan banyak pejalan mungkin bervariasi, akan tetapi, mungkin pula kita memiliki tujuan yang sama. Saya yakin (PD banget yak… hehehe) semua pejalan pasti memiliki satu alasan : UNTUK MENGENAL DIRI NYA LEBIH DALAM.

Kenapa Saya menuliskan seperti itu?. Yap, ada alasan yang melatarbelakangi hal tersebut dan akhirnya bermuara pada satu hal yang sama. Bahwa ketika kita melakukan perjalanan tujuan kita adalah untuk BELAJAR, untuk BERBAGI, untuk MENIMBA PENGALAMAN, dan pasti nya untuk MENANTANG DIRI kita tentunya. Kita melakukan traveling, sejatinya karena kita dalam tahap pencarian pola yang tepat untuk diri kita berubah ke arah pendewasaan diri yang lebih baik lagi.

Ketika Saya mencoba menyimpulkan beberapa alasan di atas dengan motif bahwa melakukan perjalanan dapat merubah diri Saya, Saya mencoba membagi beberapa poin dibawah ini untuk Sobat Pejalan semua :

Ketika perjalanan membuat kita lebih dari sekedar bertualang

Saya tidak sekedar berbicara mengenai melakukan arung jeram pada saat deras nya debit air atau menikmati Bamboo Rafting di pedalaman Kalimantan Selatan, bukan itu (walaupun Saya pernah melakukan hal tersebut.. Just info saja ya Sob.. hehehe). Saya berbicara mengenai hal yang lebih luas bahwa melakukan perjalanan telah membuat Saya lebih sebagai seorang “PETUALANG” di seluruh aspek kehidupan Saya.

Contoh sederhana adalah soal MAKANAN

Dalam melakukan perjalanan tidak selamanya kita dapat menikmati makanan / kuliner yang sesuai dengan selera kita. Saya setuju bahwa masing-masing kita pasti memiliki selera makan yang berbeda-beda, ada yang suka dengan menu yang mayoritas nya sayur-sayuran, daging atau yang lain. Nah Saya sendiri pernah ketika melakukan perjalanan ke wilayah Kalimantan Selatan dituntut (dalam tanda kutip dipaksa.. hehehe) untuk bisa menikmati masakan khas suku Dayak Meratus. Ini mau tidak mau harus Saya lakukan sebagai etika untuk menghargai si empu nya rumah. Jadi satu hal yang dapat Saya ambil pelajaran nya adalah hari ini Saya sangat menikmati makanan yang telah disajikan kepada Saya terlebih khusus pada saat melakukan traveling.

Ketika perjalanan tersebut memaksa kita melakukan hal-hal yang SPONTAN

Sepanjang usia Saya, Saya dididik untuk selalu taat pada peraturan yang ada. Dan ini selalu Saya lakukan didalam keseharian kehidupan Saya. Dengan kesadaran yang tinggi, kegemaran untuk melakukan segala sesuatu dengan sempurna, bahkan arahan yang selalu diberikan oleh orang tua terlebih lagi dari Ayah yang menyebabkan bahwa peraturan itu sangat penting bagi Saya. Akan tetapi, ketika Sahabat selalu mengikuti aturan yang ada sepanjang waktu, maka Sahabat akan kehilangan sedikit ruang untuk melakukan aktivitas yang sifat nya spontan. Contoh sederhana bagi Saya adalah ketika ada nya ajakan dari seorang kawan untuk melakukan hiking ke gunung Merapi – Jawa Tengah dan ini dilakukan nya malam hari sebelum keesokan hari nya Saya berangkat ke Merapi (Thanks to Om Gatot dan kawan-kawan atas ide gila nya.. hehehe). Atau bahkan Sobat pejalan pernah melakukan hal yang lebih ekstrem lagi??? Ini semua Saya lakukan secara spontan dan tanpa perencanaan yang matang. Walaupun akhirnya Saya bisa mengambil hikmah nya bahwa traveling secara umum telah membuat Saya pribadi menjadi lebih POSITIF, EASY GOING serta lebih SPONTAN pula.

Ketika perjalanan berbuah PERSAHABATAN

Traveling secara khusus juga memberikan aspek pendewasaan diri yang kuat dalam diri Saya, terlebih dalam hal kepercayaan diri. Khususnya ketika Saya melakukan Solo Traveling, Saya senantiasa mendapatkan diri Saya kedalam situasi dimana Saya merasa berada di dalam TAKDIR Saya sendiri (Lebay nggak sih Sob?? Hahaha). Saya sendiri yang mengambil sikap dan memutuskan untuk melakukan perjalanan atau tidak. Jadi, Saya dapat belajar bagaimana cara nya beradaptasi terhadap perubahan dan menyelesaikan setiap permasalahan yang Saya hadapi secara sendiri. Dan hasil akhir nya tentu akan memberikan banyak kekuatan bagi pribadi Saya.

Hal lain nya juga sangat berpengaruh dalam bagian sosial kehidupan Saya, terlebih dalam membangun sebuah persahabatan. Sekarang Saya merasa lebih nyaman ketika membuka percakapan dengan orang yang baru Saya kenal atau bertanya tentang satu hal yang belum Saya pahami di daerah yang Saya kunjungi dengan bertanya kepada penduduk daerah setempat. Saya tidak berbicara mengenai Persahabatan yang lebih “intents” ya walaupun tidak tertutup kemungkinan hal tersebut bisa saja terjadi dan menjadi warna dalam perjalanan hidup Saya. Akan tetapi di sini Saya berbicara mengenai persahabatan dengan sesama pejalan, teman baru yang Saya temui, keluarga baru yang rumah nya Saya singgahi untuk bermalam. Ini semua memberikan efek kepada Saya untuk menjadi pribadi PETUALANG yang tangguh.

Ketika perjalanan membuat kita ENJOY dengan DIRI SENDIRI

Ketika masa SMU dulu, Saya adalah orang yang sangat takut untuk berpergian sendiri dan membutuhkan peneguhan diri yang kuat untuk berangkat walaupun hanya ke tempat saudara yang jarak nya sangat dekat. Hari ini, Saya adalah orang yang tak pernah berfikir dua kali atau membutuhkan waktu lebih lama untuk melakukan sebuah agenda perjalanan. Di dorong rasa penasaran yang tinggi, over Confident mungkin (hahaha) dan ingin mendapatkan sensasi dari sebuah aktifitas petualangan lah yang menyebabkan Saya rela mengambil semua keputusan dan resiko yang akan di hadapi. Ketika menuju kota Bukit Tinggi di Padang atau sekedar jalan-jalan di kota Solo, semua ini Saya lakukan by my self / sendirian tanpa melibatkan teman pejalan yang lain nya.

Ini berkorelasi dengan semakin bertambahnya rasa percaya diri Saya secara general, akan tetapi traveling sendiri juga sangat dibutuhkan oleh Saya dan mungkin juga oleh Sahabat untuk mendapatkan privasi dan enjoy dengan perjalanan yang dilakukan nya. Perlu Sahabat ketahui, enjoy dengan diri sendiri TIDAK SAMA dengan merasa kesepian.

Ketika perjalanan membuat kita keluar dari zona nyaman

Hal terakhir dari note Saya kali ini adalah berkaitan erat dengan apa yang sudah Saya sampaikan di atas. Ketika sebuah perjalanan dijalankan mungkin menjadi mustahil apabila kita sudah terbiasa berada dalam kondisi yang nyaman. Aktifitas traveling ini menjadi hal yang tidak mudah dilakukan apabila kita sudah berada di zona nyaman, contoh sederhana nya adalah banyak orang yang berkata : ngapain sih naik gunung?? Udah capek, tidur nggak nyaman dan makan pun nggak enak. Ini adalah pendapat umum orang yang sudah terbiasa terkukung dengan aktifitas rutin yang menjemukan dan sudah merasa nyaaaaammaaan dengan dunia yang mereka lakukan saat ini. Sedangkan bagi kita sebagai pejalan pasti sudah tahu dong jawaban nya, betul kan??

Semakin sering kita traveling, semakin banyak pula tantangan yang akan kita hadapi. Beberapa contoh lain nya adalah kehabisan uang diperjalanan, teman perjalanan yang sakit dan lain-lain adalah seperti cobaan atau tantangan yang mungkin saja ada dalam aktifitas kita ini. Semua hal tersebut pada akhirnya mendorong Saya untuk keluar dari ZONA NYAMAN Saya dan menolong Saya untuk bertumbuh serta menolong Saya pula untuk menjadi diri Saya sesungguhnya sebagai seorang manusia.

Sebagai penutup dari tulisan ini, kita sepakat bahwa traveling bertujuan untuk mencari kesamaan tujuan. PERUBAHAN, PENCERAHAN JIWA, PENGETAHUAN